Pregnancy

Pilih Dokter Kandungan atau Bidan?

Memasuki trimester ketiga, I’m sooo excited! Trimester pertama saya lalui dengan lumayan “payah”. Mual, muntah, dan gak enak badan udah jadi teman sehari-hari memasuki minggu ke-6 sampai minggu ke-13. Rasanya badan lemes sepanjang hari dan gak nafsu makan. Alhasil, berat badan saya malah turun sekitar 3 kg. Baru kali ini pas BB turun, saya malah sedih. Biasanya kalo angka timbangan geser ke kiri sekilo aja, girangnya bukan main haha.

Tiga bulan pertama, saya masih kontrol ke dokter kandungan dan rajin USG juga. Keluhan-keluhan seperti mual dan muntah juga saya sampaikan ke dokternya.
Dan kata dokter, itu masih wajar. Pengalaman saya waktu ke dokter kandungan di RS Tria Dipa bisa diliat di sini.

Memasuki minggu ke-12, saya sempet ngerasa drop banget. Waktu itu Mas Eko lagi kerja dan mama saya inisiatif untuk anter saya ke bidan terdekat. Sebagai emak-emak, mama mungkin khawatir ngeliat saya pucet dan hampir gak bisa nerima makanan masuk (selalu dimuntahin). Akhirnya, berangkatlah kami ke klinik bidan yang jaraknya lumayan dekat dengan rumah saya, sekitar 10-15 menit berkendara. Dengan keadaan yang masih agak lemas, saya memasuki klinik bidan yang didominasi warna pink, namanya Klinik Bidan Eka Rohmawati. Klinik ini lokasinya di Komplek Zeni AD, Rawajati, Kalibata. Saya menunggu kira-kira 10 menit karena masih ada pasien lain di dalam ruang bidannya. Waktu 10 menit ini tergolong cepat dibanding dengan antre menunggu dokter kandungan di RS yang bisa mencapai 1 jam lebih.

Sebelum masuk ke ruang bidan, ada asisten bidan yang nanya ke saya “Ibu, sudah ada buku KIA-nya?” saya geleng-geleng, apa itu KIA aja saya belum tau. Ternyata buku KIA adalah buku Kesehatan Ibu dan Anak. Itu semacam buku yang merangkum rekap kesehatan ibu hamil sampai melahirkan dan menyusui nanti. Di dalamnya juga ada info tentang imunisasi anak dll. Akhirnya saya dikasih buku KIA dan ditanya-tanya tentang data diri dll. Setelah itu saya diukur berat badan, tinggi badan, dan tekanan darah. Saya juga cek Hb saat itu. Rekapan itu lalu dicatat di Buku KIA. Gak lama, kemudian saya masuk ke ruang Bidan Eka.

Buku Kesehatan Ibu dan Anak
Cover Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)

Ruangan Bidan Eka ini tergolong minimalis dan sarat barang. Ada meja bidan dan dua tempat duduk untuk pasien. Kemudian ada rak obat-obatan di belakang meja tersebut. Saya duduk di salah satu bangku pasien dan mulai cerita tentang ini itu keluhan saya dan Bidan Eka mendengarkan serta memberi nasihat yang ngayemin hati. Bidan Eka bilang, kehamilan harus dijalani dengan enjoy, jangan menganggap janin sebagai beban. Kehamilan yang dijalani dengan enjoy dan bahagia akan berdampak positif pada kesehatan ibu dan bayi. Setelah berkonsultasi, saya kemudian diberi vitamin seperti asam folat, dll untuk diminum tiap hari. Oiya saat itu janin saya juga diperiksa detak jantungnya dan alhamdulillah detak jantungnya normal. Meski kondisi saya saat itu sudah lemas karena makanan selalu dimuntahkan. Alhamdulillah saya lega karena kondisi calon baby saya baik-baik saja.

Kumpulan hasil USG 2D

Mungkin sebagian bumil akan memilih opsi dokter kandungan karena opini dokter memang lebih kuat dibanding bidan. Apalagi jika kehamilan ada masalah atau membutuhkan penanganan khusus, itu pasti prefer ke dokter. Tapi sebagian bumil mungkin lebih memilih bidan karena alasan yang kurang lebih sama seperti saya, yaitu lebih nyaman pas curhat dan kebetulan vitaminnya cocok. Apapun itu, dokter kandungan dan bidan sama-sama tenaga kesehatan yang kompeten untuk membantu ibu hamil dalam masa kehamilan dan persalinan nantinya.

Intinya kita butuh dua-duanya, dokter kandungan dan bidan. Well, itu sepenuhnya pilihan bumil mau kontrol di mana, melahirkan di mana, intinya yang penting NYAMAN. Kalau saya cenderung mix antara dokter kandungan dan bidan. Namun, insyaallah jika kehamilan gak ada masalah dan semuanya lancar, saya ingin melahirkan secara per vaginam di Klinik Bidan Eka. Kebetulan di Klinik Bidan Eka tersedia ruangan persalinan dan tiga ruang rawat inap. Semoga calon baby saya ini selalu menerima afirmasi positif dari saya dan suami sehingga persalinan nanti berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Amiiin Ya Rabb.

Oiya, kalau kehamilan ternyata bermasalah, Bidan Eka akan segera merujuk pasien ke RS untuk ditangani dokter kandungan. Hal ini karena bidan tidak memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan seperti operasi caesar dan tindakan serius lainnya. Intinya, bidan akan sebisa mungkin mengusahakan agar bumil menjalani persalinan per vaginam secara alami. Namun bila ada kendala seperti posisi bayi sungsang/melintang, plasenta previa, dan masalah serius lainnya, bidan akan segera merujuk pasien ke RS. Kalau di Bidan Eka, biasanya dirujuk ke RS Tria Dipa.

Oke, sekian curhat dan pengalaman saya. Semoga bermanfaat untuk bumil-bumil yang sedang galau mau kontrol ke mana hehe. Happy to sharing and see you on the next post!

3 tanggapan untuk “Pilih Dokter Kandungan atau Bidan?”

  1. Sama kaya pengalamanku mbak. Pas trimester pertama mual dan muntah parah banget. Dikasih obat sama dokter kandungan malah ngga ngefek. Eh pas ke bidan, berkurang deh intensitas mual muntahnya. Insya Allah saya juga mau melahirkan di bidan aja 🙂

Tinggalkan Balasan ke ranselriri Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s