Motherhood

Cerita Menyapih Kaniya (Part 2)

Udah bulan November. And the good news is… Kaniya berhasil disapih! Yeay! Alhamdulillah sebulan lebih ini Kaniya udah lepas nen, tepatnya mulai tanggal 7 Okt 2019, 2 hari pasca ulang tahunnya yang ke-2. Terharu akhirnya bisa mengASIhi Kaniya full 2 tahun. Alhamdulillah ya Nak rezeki Kaniya bisa ASI 2 tahun, direct breastfeeding pulak πŸ˜†

Proses sapih ini sebenarnya udah berjalan sejak beberapa bulan yang lalu. Karena saya percaya semua butuh proses dan segala yang dadakan itu efeknya kurang bagus, apalagi bagi anak balita seperti Kaniya. Cerita sapih part 1 udah saya posting juga beberapa bulan yang lalu. Boleh dibaca-baca untuk tahu gimana ancang-ancang saya untuk memulai proses penyapihan.

5 Oktober 2019, Kaniya masih nen. Saya masih ngasih, bahkan feeling saya mengatakan, “Terserah deh mau nen sampe kapan, mama gak mau maksa-maksa ya, Dek. Biar baby led-weaning aja.” Saya juga udah bilang ke suami bahwa kayaknya saya belum tega untuk maksa Kaniya udahan nen-nya. Meski sounding untuk lepas nen masih kami lakukan ke Kaniya. Berharap dia sadar sendiri dan memulai proses weaning with love ❀

6 Oktober 2019 malam, Kaniya masih nyusu sama saya sebelum tidur, hal rutin yang sudah kami lakukan selama 2 tahun belakangan. Mendadak saya berpikir, mau sampai kapan? Kondisi badan saya yang lelah usai menjadi working mama, lalu masih mengurus segala tetek bengek rumah tangga, ditambah malamnya saya masih digelendoti hingga tidak memiliki waktu tidur yang berkualitas. Badan udah rontok rasanya, bagian tersensitif payudara juga sering sakit karena di usianya saat ini gigi Kaniya udah lengkap, taringnya berasa makin tajem aja apalagi kalo lagi nen 😭

Bukan, saya bukan mengeluh atau tidak bersyukur. Saya hanya merasa tiba-tiba saya mendapat secercah kekuatan untuk memulai. “Besok kita mulai sapih ya, Kaniya” bisik saya pelan ke Kaniya yang memang sudah tertidur sejak tadi. Tapi mulutnya masih lekat di payudara saya.

Ya, akhirnya saya memutuskan untuk mother led-weaning. Dengan catatan, saya tidak akan menawarkan atau menolak (jika Kaniya minta nen). Saya berpegang teguh pada prinsip: alihkan ke hal lain atau gendong hingga ia lelah sendiri.

7 Oktober 2019

Saya sengaja tidak menawarkan ASI ke Kaniya sebelum saya berangkat kerja. Sebagai gantinya, saya minta tolong suami saya untuk membuat susu formula yang sebenarnya sudah jarang sekali diminum oleh Kaniya (karena dia masih mengandalkan nen, nen, dan nen. Nen mama paling enak katanya πŸ˜‚). Bangun tidur, Kaniya langsung dialihkan main sama baba, dibikinin susu sama baba, mandi sama baba, baru deh pakai baju & disuapin sama mama ❀ Saya pamit berangkat kerja dan Kaniya sepertinya lupa kalau pagi ini dia gak nen.

Saya sampai rumah sekitar jam 17.30 WIB. Sedikit drama mulai ada, saya jalankan misi saya untuk selalu mengalihkan perhatiannya. Bisa dengan belajar hewan/buah/huruf dari flashcard, makan, ngemil, hingga stimulasi bercerita tentang apa saja. Tidak lupa saya selalu bilang : Kaniya udah besar, udah jadi kakak kakak. Mama sayang sekali sama Kaniya. Selalu afirmasi itu yang saya ulang kalau Kaniya mulai ingat ia harus nen.

Pukul 22.00, sudah masuk jam tidur Kaniya, sudah lewat malah. Drama sesungguhnya dimulai. Pengalihan apapun sepertinya tidak mempan di jam-jam rawan seperti ini. Lampu sudah dimatikan, suami saya sudah masuk alam mimpi entah sejak kapan. Kaniya masih rungsing, minta nen, hanya mau nen. Saya jalankan taktik gendong sambil nyanyi sholawat. Kaniya masih terisak. Saya masih bergumam sholawat diselingi dengan afirmasi “mama sayang Kaniya, masih dan akan selalu sayang”.

“Nyanya mau minum,” katanya, masih sambil terisak.

“Mau di gelas atau botol di kulkas?” tanya saya.

“Gelas aja”

Kami keluar kamar, menuju dispenser yang ada di ruang tengah. Kaniya minum setengah gelas air lalu menawarkan saya minum juga. (Saya terharu, anak ini benar-benar sudah besar & tumbuh empatinya) 😍

Kembali ke kamar, Kaniya masih saya gendong. Fyi, saya gendong tanpa alat apapun. Sengaja, saya masih ingin ada skin to skin yang lekat meskipun sedang dalam masa sapih.

Hari pertama : berhasil. Kaniya terlelap setelah saya gendong sekitar 10-15 menit. Dan setelah minum air putih setengah gelas. Kaniya sempat bangun sekitar jam 3 pagi. Lagi, saya tawarkan minum air putih dan dia setuju. Dia minta gendong ke dispenser dan saya ambilkan minum, setengah gelas air kembali ia minum.

Cerita hari ke-2 hingga hari ke-6 kurang lebih serupa. Hanya semakin hari semakin berkurang dramanya. Iya, butuh penyesuaian sekitar 1 minggu untuk Kaniya benar-benar ikhlas melepas nen. Selama kurang lebih seminggu itu juga saya deg-degan. Saya takut pertahanan saya sebagai ibu runtuh dan akhirnya menyerah dengan kasih Kaniya nen lagi. Itu berarti kegagalan dan saya harus mulai dari awal lagi suatu saat nanti. Tidak bagus juga untuk Kaniya karena ia akan melihat mamanya tidak konsisten.

Drama persapihan Kaniya ternyata berlanjut dengan drama gatal-gatal yang menyerang sekujur tubuhnya. Boro-boro untuk pulas tidur, Kaniya menangis semalaman karena leher, perut, hingga punggungnya merah-merah entah karena serangga atau alergi. Saya berulang kali istighfar, saya harus kuat, saya hanya berharap drama berkelanjutan ini cepat usai. Kebanyakan ibu runtuh pertahanannya jika melihat anaknya sakit, tapi saya yakin Kaniya baik-baik saja. Saya balurkan minyak & salep calendula untuk meredakan gatal di tubuhnya.

Drama gatal-gatal berlangsung 2 hari. Itu berarti sudah lebih dari seminggu jam tidur saya benar-benar kacau. Tapi saya sudah bulatkan tekad untuk melalui masa persapihan ini dengan kuat dan penuh cinta. ❀ Saya minum multivitamin dan gencarkan minum air mineral, supaya tidak drop di waktu yang tidak tepat seperti ini.

Alhamdulillah semua berbuah manis. Sekarang Kaniya sudah berhasil sapih yang berimbas pada :

1. Makan & minumnya makin lahap.

2. Suka ngemil buah, terutama semangka & jeruk. πŸ‰πŸŠ

3. Saya punya waktu tidur yang berkualitas tanpa pegel-pegel lagi karena posisi menyusui waktu itu yang sedikit menyiksa setiap malam πŸ˜…

4. Kaniya bisa tidur sendiri kalau sudah waktunya, jadi mama & baba punya quality time πŸ˜†

Kebiasaan yang kami terapkan selama proses sapih juga masih berlanjut sampai hari ini.

  • Pagi-pagi mandi dan dibikinin susu sama baba. 🍼🍼🍼
  • Selalu sarapan (dulu Kaniya jarang sarapan, maunya cuma nen pagi-pagi karena ngerasa mamanya akan berangkat kerja).
  • Terbiasa cerita banyak hal pas mama pulang kerja, jadi saya pancing dia cerita sampai detail. Ini buat stimulasi kemampuan bicaranya juga.
  • Sebelum bobok malem pasti minta gendong ke dispenser dan diambilin minum. Meskipun mama udah tidur juga dibangunin ama dia πŸ˜…
  • Sekitar jam 3-5 pagi terkadang masih kebangun minta minum air putih lagi. Herannya, gak mau dikasih air dingin yang ada di kulkas kamar. Cuma mau digendong mama ke dispenser diambilin minum (padahal ya air dingin juga) πŸ˜‚

Jadi itulah perjalanan proses sapih Kaniya yang menurut saya gak mudah tapi gak susah juga karena saya udah bertekad bulat dari awal untuk mulai sapih. Ya, ini proses mother led-weaning. Agak lama memang karena cara saya hanya dengan afirmasi ke Kaniya (which is kemungkinan gagal akan sangat besar kalau komunikasi yang dibangun tidak maksimal). Tapi gapapa, sudah berlalu & saya sangat bersyukur akan proses sapih tsb.

Alhamdulillah saya sangat menikmati prosesnya. Capek? Iya. Kurang tidur? Pasti. Seneng? Banget. Karena ternyata saya dan Kaniya bisa lho bekerja sama melalui proses sapih ini. Kami juga makin lengket karena sekarang selalu saling mengucapkan kalimat afirmasi yang tujuan sebenarnya adalah untuk proses sapih. Eh sekarang malah kebiasaan selalu bilang “mama sayang Kaniya” trus Kaniya selalu bales bilang “Nyanya sayang mama juga” huhu terharu πŸ˜‚

Begitulah. Wangsit untuk memulai proses sapih datang begitu saja, bahkan saat feeling saya mengatakan akan lanjut sapih setelah 2 tahun. Saya tiba-tiba seperti dianugerahi kekuatan dan kesehatan yang luar biasa untuk melewati drama berkelanjutan selama seminggu lebih. Alhamdulillah πŸ˜‡

Mengenai kondisi payudara saat & setelah melalui proses sapih, alhamdulillah banget saya tidak mengalami mastitis atau permasalahan lainnya. Saya juga tidak pumping. Hanya merasa payudara agak mengeras di hari ke-2 dan ke-3 sapih. Selebihnya, payudara normal hingga ASI sudah tidak diproduksi lagi. Jadi saya tidak mengalami sakit/meriang/sejenisnya saat proses penyapihan.

Terima kasih, Ya Allah. Makasih juga anak mama yang cantik & cerdas. Gak lupa juga, makasih suami yang udah telaten ambil alih bagian urus Kaniya di pagi hari ❀